Restu Dua Bidadari

Friday, 2 December 2016
Bulan-bulan ini 2 tahun terakhir kemarin adalah masa-masa "suram". Bagaimana tidak, di saat yang lain bisa merencanakan liburan akhir tahun dan mengejar diskonan di mal-mal, aku hanya bisa stay at campuss untuk mengerjakan tugas, dan bahkan tahun kemarin, aku stay di foodcourt mal deket rumah dari dia buka sampai dia tutup, untuk mengerjakan karya akhir (soalnya kalo di rumah malah digangguin anak-anak dan gak bisa fokus 😐)

Menjelang akhir tahun, mal itu mengundang band, yang membuat suasana jadi berisik banget. Aku hanya bisa semakin menancapkan earphone ke dalam gendang telingaku untuk memperkecil noise yang bisa mengganggu konsentrasi.. Yah, resiko kenapa aku memutuskan mengambil kuliah lagi.

Flash back...


Dulu, cita-citaku memang mendapatkan beasiswa, terinspirasi dari om adek ibuku sang pujaan hati yang jadi mahasiswa terbaik ketiga di UGM waktu S1, dan dapat beasiswa S2 di Jepang.
Namun, waktu sebelum menikah aku gak PD untuk apply beasiswa di kantor karena kupikir aku diterima kerja di kantorku hanya lulusan SMA. Hal itu terus tertanam diotakku, sehingga meskipun aku sudah lulus S1, aku tetap berpikir aku "bodoh" dan aku warga "kelas dua". Terlebih sebenarnya aku sudah meneruskan kuliah S2 dengan beasiswa dari almamater kampus S1, namun beasiswanya bukan biaya full pendidikan, melainkan keringanan 50%.

Setelah aku menikah dan punya anak, baru aku memberanikan diri apply beasiswa, karena aku sudah malas meneruskan kuliah S2ku yang tinggal tesis (efek kuliah gak sesuai jurusan yang diinginkan). Aku hanya berani minta ijin ke suami untuk diperkenankan ikut beasiswa. Suami sih mengijinkan meski aku melihat raut keberatan di wajahnya.
Maklumnya aku tinggal di kabupaten Tangerang, dan kuliah yang aku tuju, kampus utamanya di Depok. Kalau orang Jawa bilang, itu budal minggat (pergi untuk kabur), lha kalau naik Commuterline aja bisa 2 jam dengan oper2.

Ternyata keengganan suami membuatku sulit untuk nembus beasiswa. Tiga kali aku apply beasiswa spirit, gagal. Bahkan ada yang sudah sampai tahap wawancara 😞. Saat itu aku merasa marah! Aku merasa sudah melakukan apapun. Aku bertahan dari cibiran teman2, aku belajar untuk tes TOEFL dan TPA, aku "memaksa" suami, aku berusaha sedekah (meski mungkin tidak maksimal). Dan aku down saat itu.
Hingga akhirnya suamiku keceplosan bilang kalau dia rada gak setuju aku kuliah lagi kalau kuliahnya malam..
Yap, terjawab sudah kenapa aku selalu gagal, sepertinya salah satunya karena ternyata ada sedikit ketidakridoan suamiku.

Hingga akhirnya, ada teman sekantorku yang apply beasiswa kominfo, untuk jurusan IT. Dia ngajak aku, ayok mbak Ni, daftar!
Aku kembali galau, di satu sisi, meski dari SMK dan S1 aku jurusan IT, tapi aku gak pernah bekerja di bidang IT. Aku takut nanti kalau ada pelajaran coding, database, dsb2 gimana? Mana sebelumnya bosku bilang kalo jiwaku bukan di IT. Ahh.....

Namun didorong kebosanan tingkat tinggiku di kantor, keinginan untuk kabur dari kantor sangat tinggi. Ditambah aku berharap punya waktu yang jauh lebih banyak untuk keluarga karena aku akan dibebaskan dari pekerjaan kantor selama kuliah, ditambah kuliahnya mulai siang hari, sehingga cita-cita muliaku adalah bisa antar jemput anak sekolah sebelum berangkat kuliah.

Oke, aku mulai telpon suamiku untuk minta ijin dan menceritakan semua kegalauanku. Alhamdulillah suamiku mendukung dan memberi semangat, bahkan dia bilang "kalau adek ambil IT, mas kan bisa bantu-bantu kalo adek gak ngerti pelajarannya" Ahh so sweet, emang suamiku bekerja di bidang IT sih 😏. Lalu aku dengan takut-takut telp ibuku untuk minta ijin. Ibuku awalnya tidak setuju "lha terus kuliah S2mu yang kemaren aja belom selese, sekarang mau kuliah yang lain?"
Kubujuk ibuku dengan janji-janji surga, bilang kalau semester 1 kemungkinan gak terlalu sibuk, dan aku bisa sambil ngerjain tesis di kampus sebelumnya. (beneran janji surga ternyata, soalnya semester 1 pun sudah full tugas en gak sempet ngapa-ngapain). Akupun mengantongi restu ibuku.

Dan memang benar seperti yang dikatakan Ippho Santosa tentang dua bidadari di buku Keajaiban rezeki, saat kita sudah mendapat restu dari pasangan hidup dan dari Ibu, insya Allah segala sesuatu akan lancar. Meski saat tes SIMAK aku lupa gak bawa alat tulis satupun, aku diberi pinjaman pensil oleh seorang peserta yang bawa pensil buanyak banget (ada kali sepuluh biji), dan setelah itu aku ketemu dengan teman sekantor yang juga mau memotong penghapusnya untuk berbagi denganku. Bahkan aku berhasil lulus tes SIMAK meski aku sempat tertidur saat mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris saking pusingnya menahan kantuk dan ketidakmengertian mengerjakan Bahasa Inggris 😱.

Kupikir tes SIMAK itu hanya sekedar formalitas, tapi setelah aku belajar di kampus, aku baru tau ada temannya teman yang pengen banget masuk UI, sudah 3 kali tes SIMAK, dan tetap tidak lolos..
Saat itulah aku menyadari kalau aku dipermudah Allah karena aku sudah mendapat restu dari dua bidadariku. Alhamdulillah juga suamiku menepati janjinya dengan memberi full support mengijinkan istrinya pulang larut dan terkadang mengerjakan tugas kelompok di kala weekend, sampai membantu mengerjakan tugas dan karya akhirku hingga aku berhasil lulus tepat waktu. Selain dukungan dari teman-temanku tentunya..

Pelajaran yang dapat dipetik, dalam melakukan segala sesuatu, apalagi yang sudah berkeluarga, harus ada dukungan dari pasangan hidup dan ibu agar semua urusan kita dipermudah oleh Allah. Apalagi kalo menyangkut peristiwa besar dan penting seperti pekerjaan, mencapai cita-cita dan sebagainya πŸ˜ƒ
Bahkan ridho anak juga sangat penting untuk memperlancar urusan kita lhoo...

Terima kasih buat suami, anak-anak, dan orang tuaku yang selalu menjadi the best supporter in my life. Love u all.







49 komentar:

yulia yuli said...

Yups... Bener banget Nia, restu dan ridho suami sama ibu no one! Ga bisa dikesampingka.. Semangat ya

Muhammad Zaini .com said...

Luar biasa pengalamannya. Itu yang bawa pulpen sampai sepuluh warna-warni kali ya... hahhahahah

Ajen Angelina said...

Wah mbak Nia di UI. Akunjuga balik lagi ke UI tapi nanti ambil Simak April Tahun depan hihihj..
Kemarin aku beasiswa LPDP Mbak Niaa. Uangnya lumayann heheheh.
Nanti kopdar yuk Mbakk πŸ˜‚πŸ™ˆ

Masirwin said...

Mengingatkan ku pada penyesalanku yang tidak mau terima beasiswa dari kampus...

Dian Ravi said...

Bener banget ya Mbak. Ketika suami ga kasih ijin, segala sesuatunya berasa mandek.
Btw, kita sama. Ga kelas S2 mandek di tesis. Bedanya aku bener-bener ga mau sekolah lagi abis itu.

atanasia rian said...

Bener banget mba, restu dari suami penting banget. Semangat mba

Murni Rosa said...

Wah, suaminya baik ya, Mbak. Tadinya saya pikir gara2 udah ada anak jadi mindset 'istri tuh kerjanya ngurus anak aja' yg bikin dia ngga setuju2 amat. Ternyata finally dia tetap support niatmu. Istri maju suami ikut seneng, itu keren. :)

Oky Maulana said...

jadi pengen s2 juga wkwkwk

Rindang Yuliani said...

Barakallah Mbak Nia, sudah lulus S2nya. Beasiswa pula. Saya juga punya cita2 ngejar S2. Semoga ketularan semangatnya Mbak nia.

keninglebar said...

Congrats, Mbak. "Dreams, and God will embrace your dream." Demikian kata Andrea Hirata. Kalau kita punya keinginan dan cita-cita, semesta akan mendukung Mbak. Selamat!

Tukang Jalan Jajan said...

Wah luar biasa sekali semangatnya. Saya harus banyak belajar nih. Semoga semangatnya menular kepada saya juga

Fandhy Achmad Romadhon said...

Terkadang memang benar, restu ilahi itu restunya seorang ibu. Haha ya memang, perlunya ijin dari orang2 terdekat dan keluarga itu selain untuk mencari bahan pertimbangan jg mencari dukungan.. Ya semoga cepet selesai ya mbak kuliah s2 nya X)

Chino Kowalski said...

emang kalo lagi apes emang berasa bet hari sial
mau ngelakuin apa2 jd males takutnya tar malah jadi tambah sial kwkwk
semangat ya mbak!

Auditor De said...

Aduh kece Bgt dah... Kuliah yg penuh perjuangan utk dpt beasiswa & restu. Itu tidak mudah. Tapi dirimu berhasil membuktikan nya.

Selamat ka.

Aaa.. Makin tambah pengen kuliah lg ni.

Zahrah Nida said...

Hiks hiks T_T 'jurusan tidak sesuai dengan keinginan'
Aku acung tangan pelan-pelan deh. Tapi jadi inget salah satu line di film Merry Riana, 'selesaikan apa yang telah kamu pilih'. Yosh! Saya juga ahrus lebih semangat drpd mba Nia!!! Apalagi sy belum bersuami, jd ga perlu ijin suami xD. Ngga deng, maksudnya tanggung jawabnya belum serudet mba Nia. Belum ada anak juga, jd waktu belajar lebih fleksibel dan lapang. Saya harus semangat xD Kita semangat!

Noni Rosliyani said...

Semoga lancar kuliahnya ya mba.. Brati ini ambil jurusan IT lagi ya..

Robby Zulkifli said...

"Jurusan tidak sesuai dengan keinginan" hiks :( itulah yang saya rasakan saat ini, rasanya seperti nano2. Kalau ditinggalkan saya merasa kasihan dengan perjuangan ortu saya, jika dilanjutkan saya harus belajar lebih ekstra T_T

Semoga tesisnya cepat kelar ya mbak dan diberi kemudahan dengan pekerjaan barunya

Lendy Kurnia Reny said...

Saya pernah mengalaminya, mba...
Saat awal nikah.

Rasanya sakit ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai.


Tapi hikmahnya indah di belakang.
In syaa allah.

(Setelah menikah) Ridho Allah berasal dari ridho suami.

Dikki Cantona Putra said...

keras sekali apabila masih kuliah mengerjakan tugas kampus terus menerus sedangkan di luar sana banyak sekali acara yang bagus bagus dan serba diskonan

Perempuan November said...

aku dulu pas kuliah jadi beasiswa hunter mbak hihihiiii..

bener banget ya mbak, restu orang terdekat khususnya ibu dan suami (bagi yg sudah menikah) adalah pembuka pintu kemudahan untuk urusan-urusan kita :)

cutdekayi said...

Selamat, mbak! Semoga rentetan kesuksesan berikutnya terus mengikutimu.

Sekarang, aku lagi off dulu dari dunia perkuliahan. Lagi saatnya aku menyupport suami untuk sekolah lagi dan mengurus anak-anak dahulu. Insya Allah rejeki sekolah untukku akan datang di masa yang tepat. Ganbatte!

Wulan Ndari said...

Selamat mba semoga terus lancar dan penuh dukungan dari orang tua dan pasangan :)

Yesi Intasari said...

kebayang kerja kerasnya harus ngatur waktu untuk keluarga, kerjaan, dan kuliah, meski udah berkeluarga tapi tetep semangat capai cita-cita ya apalagi kalo udah didukung 2 bidadarinya pasti selalu ada jalan yang dipermudah, aku ikut seneng bacanya nih mba hehe

Widya Herma said...

Semoga apa yang diinginkan dapat diberikan kelancaran dan kemudahan dalam mewujudkannya ya mbak. :) yang terpenting adalah dukungan serta ridho dari orang - orang tersayang ya mbak :)

Nabela Aprilia said...

Selamat mbak, semoga ilmunya bermanfaat. :)
Dukungan dari orangtua dan pasangan itu penting banget ya mbak, berasa tenang dan lancar ngejalaninnya.

Tarry KittyHolic said...

Betul banget Mbak Nia, pernah ngerasain juga waktu mau bikin rumah. Begitu emak kasih ijin, semuanya diberi kelancaran. padahal kami tidak punya uang. :)

Selamat ya Mbak Nia, semoga ilmunya bermanfaat dan makin sukses. Amin

Movie Review Indonesia said...

wah selamat ya mbak.
saya juga dulu sebelum mulai ngerjakan skripsi di S1, punya mimpi dapat beasiswa di luar negeri.
tapi setelah merasakan skripsi, ah malaslah kalau di S2 juga bakal jumpa sama tesis nantinya :D

Jakup Ginting Sinusinga

Adi Setiadi said...

Benar sekali beriringan antara suami dan isteri akan menghadirkan keberkahan. Baik bagi keluarga inti hingga keluarga besar. Semoga Allah SWt berikan kemudahan.

Ainun said...

Semangat terus mb. Kalau niat sudah bulat,tekad kuat insyalah berhasil

April Hamsa said...

Bener banget ya mbak, ridho ortu, ridho suami itu ngaruh banget.
Thx udah diingetin :)

Feby Yolanda said...

Benar mbak, doa ibu benar2 manjur 😊
Semoga lancar studi S2 nya ya mbak

zarirah achmad said...

Gimana caranya punya semangat setinggi itu? Apa yang mendasarinya? Padahal sudah bekerja dan berkeluarga. Trus pola belajarnya gimana mbak? Boleh dong bagi tipsnya :)

Jiah Al Jafara said...

Wah alhamdulillah dan smangat nuntut ilmunya Mbak! Ridho dr 2 org itu emang doa yg paling baik. Dan ya, suami kok ya agak modus kalo ambil IT, hahaha

Nurul Fitri Fatkhani said...

Bener banget, Mbak. Restu suami dan ibu memang berpengaruh pada semua aktivitas kita. Dan saya memang benar-benar merasakannya.

Didik Jatmiko said...

Restu ibu itu penting bangetttttt pokokmam

〜ラッキ said...

Wuih, ya ampun aku apresiasi dengan perjuangannya kak. Jadi merasa kalau diri ini belum seberapa :'
Sukses terus yaaa kak, terimakasih sudah mengingatkan juga kalau ridha orangtua itu salah satu hal utama *belum punya suami* :')

Widi Utami said...

Aku tinggal skripsi aja malas melanda. Huhuhu. Tulari semangat dongggs.

Semoga dimudahkan ya, Mbak.
setuju banget ridha suami dan Ibu adalah nomer satu. 😊

erina julia said...

Wah, iya bener mba, ridho orang tua dan suami memperlancar langkah kita ya. Trus ga jadi double degree dong, :3

Omith said...

i feel u mba e, pukpuk. gw pun ga kelar S1 gegara suami ga rido jg wkt itu hiks. krn emg harus fokus urus anak pd wkt itu. Tp oneday mau gw kejar lg sekolah lg. apapun yg direstui suami dan keluarga smuanya lancar. the power of love.

@januaryanID (Ryan RA) said...

Pengalaman yang luar biasa mba, emang kalau sudah dapat restu dari orang tua dan suami/istri, segala hal yang dikerjakan terasa mudah
ahh mba Nia, ko aku jadi makin panas ya....jadi pengen cepet-cepet lulus S1 dan meneruskan S2 heee...amin
Baru tau ternyata mba Nia lulusan anak IT, coding ahhh mba hee

Ira duniabiza said...

Aihh suka sama semangat mba nia. Dan berbuah hasil.. alhamdulillah keluarga dan suami mendukung ya mba. Pasti jadi jauh lebih lega setelah mendapat restu dari kedua bidadari... siap. Belajar dan ambil hikmah nih dari sharing mba nia. Makasih ya mba

Siti mudrikah said...

Aku yang masih single merasa banget doa orangtua adalah doa yg mujarab, mungkin nanti saat sdh ada pasangan akan bertambah lagi doa yg bisa mempermudah cita2 kita..
Terimakasih sharingnya mba

Muhammad Syafii said...

Semua bisa lancar kalo dapat restu dari suami dan anak2 ya mba. Kalo belom nikah ya restu orang tua

refika artari said...

Wow

Tulisannya menginspirasi mb Anggania. . saya juga salah satu yg menyerah pada cita cita. . krn harus membiayai adik adik. . padahal dulu S1 jg dr beasiswa full. .begitu lulus langsung kerja. Supaya bisa bantu bayar sekolah adik adikku yg buanyak. Hiks. . jadi sedih. . padahal cita citaku dulu itu dosen.

Btw selamat ya atas perjuangannya yang sudah berbuah manis. .

Liza Fathia said...

Bener banget, dulu sebelum nikah aku selalu meminta restu ibu untuk melakukan sesuatu dan setelah menikah, bertambah lagi yang aku mintaii restu yaitu suami.

ben benavita said...

wahhhhhhhh. keren banget dapet beasiswa s2.
aku aja yang ngejr beasiswa waktu s1 nggak dpet mbak. bentrok di tes kesehatan terus. abis universitas yg dituju emang mengharuskan ada tes kesehatan sih. hehehe. huft

Udafanz said...

Setuju banget mbak, ridha dari pasangan dan orang tua itu penting banget.

andhikamppp said...

Semangat dan selamat mbak untuk lNjutan kuliahnya. Semoga dimudahkan semuanya.insya Allah dengan ridha keluarga, akan mendapat hasil terbaik.

Tapi saya envy, gimana donk?

Cindra Prasasti said...

Selamat kelulusan s2 nya mbak.. Aku, kapan ya? Eeee... Mikir mulu hahahhaa