Heroic vs Nuts

Monday, 23 July 2012
Hari pertama masuk kerja di bulan puasa, ada kenangan tersendiri. Bukan karena sekarang bertepatan dengan hari anak nasional, bukan itu...

Karena jam kerja selama bulan Ramadhan mundur jadi pukul 08.00 - 15.30, otomatis aku berangkat agak siangan. Biasanya aku naik kereta yang dari Serpong pukul 6.40, sekarang aku naik yang pukul 07.05. Sayangnya hari ini kereta mengalami keterlambatan (lagi).
Saat aku sampai di stasiun Serpong, kereta Api Rangkas Jaya yang jadwalnya pukul 6.50 baru sampai Serpong pukul 07.10. Itupun kereta belum bisa diberangkatkan karena banyak penumpang yang naik di lokomotif.

contoh penumpang yang naik di loko. kalau rangkasjaya tidak sepenuh itu, yang berdiri di loko pun hanya di pinggir, tidak sampai depan. pict from here
Saat ku mendengar pemberitahuan "Kami himbau, bagi para penumpang yang berada di lokomotif agar turun. Kereta tidak akan kami berangkatkan sebelum para penumpang turun."

Deg, wah, masak aku terlambat lagi. Bulan ini sudah 4x aku terlambat. Dua minggu ini pun kereta gangguan terus..
Berulang kali pengumuman itu dikumandangkan, para penumpang tetap bergeming.
Tidak ada satupun petugas keamanan yang turun tangan. Bahkan petugas yang biasa meriksa karcis di dalam KRL pun diam saja.
Dengan jengkel, aku keluar dan bertanya ke petugas yang biasa meriksa karcis tersebut.
"Pak, ini kereta tidak akan berangkat sebelum rangkas jalan?"
"Iya, jadwalnya memang Rangkas dulu yang berangkat"
"Trus, kereta Rangkas tidak akan jalan sebelum para penumpang yang dilokomotif itu turun?"
"Sepertinya begitu. PKD (petugas keamanannya) juga ga ada, pada tidur kali ya abis sahur"

Aku berpikir, jalan sana, balik lagi...
Lalu sedetik kemudian aku teriak "Hoi, turun dongg... Jangan egois. Keretanya ga mau jalan kalau kalian ga turun!! Kereta kami ga akan jalan kalau kereta kalian ga jalan!!"
Mereka bengong. Liat ada emak-emak teriak-teriak di peron yang berjarak sekitar 50 meter. Ada yang saling berpandangan, trus malah jongkok. Ampun dah!

"Hoi.. ayo dong turun.. Tuh, di dalam masih banyak yang kosong! Gerbong belakang juga masih kosong. Pikirin kepentingan orang lain juga dong!"
Ada yang ngeyel "daripada kami di atap"
"Yang di pintu geser dong.."

Trus, aku keluarkan jurus
"Minta tolong kalian turun.. Kami ga bisa berangkat kalau kereta kalian ga jalan. Puasa-puasa jangan gitu dong"

Alhamdulillah, akhirnya ada beberapa orang yang mau turun dan masuk ke gerbong.
Kemudian barulah dari balik kereta ada petugas keamanan yang menyuruh mereka turun. Saat ada yang tetep tidak mau turun, dia bilang "ini demi keselamatan penumpang juga"
Aku langsung masuk kereta commuterku dengan muka merah padam. Perutku langsung sakit, karena aku teriak kencang sekali. Maklumlah suara cempreng kalau tidak teriak, tidak akan didengar orang.

Huff, untunglah saat itu aku tidak puasa. Orang-orang juga pada cuek sama kejadian tadi. Aku menenangkan diri sambil duduk, dan cuma bisa terpekur hebat juga ya aku berani. Mungkin ini karena panik takut dipotong lagi untuk kelima kalinya.

Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali, dan kesadaran para penumpang sudah tinggi demi keselamatan mereka. Amien

5 komentar:

Baby Dija said...

padahal bahaya ya Tante...
naik di atas kereta
Dija sih gak berani

Lidya - Mama Cal-Vin said...

wah mbak bisa teriak kenceng juga ya ternyata :)

Mbah Dukun Bagong said...

wah untung naik diatas kereta, coba kalo di bawah kereta, wah lebih bahaya

Della said...

Mestinya jangan bilang nggak akan diberangkatkan kalau mereka nggak turun, tapi bilang, "Semua akan disetrum kalau tidak turun." Pasti turun semua! :D
Nia hebat yakk.. berani banget, hihihi..

Nia Angga said...

dija: khan dija anak pinter, naik di atas kereta memang ga boleh syg..

mbak lid: hihihi

mbah dukun bagong: setubu...

della : aku aja ampe gemeteran del.. antara takut dan terpaksa :))
tapi menurutku masih lebih berani dirimu yang bisa negor perokok face to face hihi