Sebuah Permintaan

Thursday, 20 October 2011
Sampai detik ini, kalau aku teringat peristiwa itu, debar rasa bersalah masih membuncah dengan hebatnya..
Aku merasa berdosa, bersalah, dan mendzalimi orang tua..

Begini kisahnya:
Aku dilahirkan menjadi anak kedua dari dua bersaudara.. Kakak perempuanku satu-satunya hanya selisih 1 tahun di atasku. Kami ditakdirkan memiliki sifat yang berbeda.. Dia seorang wakil ketua OSIS waktu di SMP, dan dia juga makin aktif ikut organisasi waktu di SMU..
Sedangkan aku bukan apa2 dan bukan siapa2. Aku seakan selalu bersembunyi dibaliknya. Saat sekolah dari SD hingga SMP, guru2 dan kakak kelasku tidak mengenalku sebagai "Nia" tapi mengenalku sebagai "Adiknya Ima"..
Hal itu membuatku kurang percaya diri, dan aku menuruti semua saran kakakku, baik dalam memilih pelajaran ekstrakurikuler maupun saat memilih sekolah SMA.

Kedigdayaan kakakku juga terjadi di dalam rumah. Kakakku lebih berani bilang ke orang tua kami jika ingin sesuatu.. Sedangkan aku, lebih memilih diam, dan menahan keinginanku. Beruntung aku juga bukan tipe anak yang pengen ini itu saat itu..


Saat SMA, aku berpisah dengan keluargaku. Aku sekolah dan ngekost di Malang, dan mereka tinggal di Kediri. Pemilihan sekolah STM itupun juga atas saran kakakku setelah sebelumnya aku gagal masuk di SMU Taruna Nusantara. Pada awalnya orangtuaku melarangku karena sekolah swasta itu sangat mahal untuk ukuran kedua orangtuaku yang pegawai negeri. Sebagai perbandingan, saat smp, spp hanya 2500, sedangkan di STM itu udah 75000. Namun karena bujuk rayu kakakku, orang tuaku akhirnya mengalah. Mungkin sudah rezekiku sekolah di situ karena dari beberapa temanku yang daftar bareng, aku yang diterima sekolah di situ.
Mungkin kalian bertanya kenapa bukan kakakku yang sekolah di sana sesuai keinginannya.. Hmm, kakakku dilarang pergi jauh dari orang tua karena dia sakit-sakitan dan menderita asma. Orang tuaku tidak tega membiarkan dia tinggal di Malang yang dingin dan jauh dari orang tua..

Saat SMA, kakakku pengen banget motor Shogun warna ungu.. Kala itu harganya sekitar 4jt.. Orangtuaku hanya bisa menjanjikan akan dibelikan kalau punya uang.. Yahh berapa sih gaji pegawai negeri waktu itu.. Tidak sampai 1 juta, belum dipotong hutang dan lain sebagainya..

Hingga akhirnya suatu sore ada kiriman shogun ungu di rumah. Kakakku senanngg sekali..
Dia sangat sayang sama shogun ungunya itu. Setiap berangkat sekolah, sekarang dia naik shogun itu bareng sahabatnya. Meski sahabatnya saat itu juga udah punya motor, kakakku ga mau naik motor sahabatnya. Dia lebih seneng membonceng sahabatnya naik shogun ungu..

Hingga suatu saat, waktu aku liburan sekolah dan pulang ke Kediri, terjadi pertengkaran antara aku dan kakakku..
"Mbak ma, aku pinjem motornya buat ke tempat teman ya.."
"Aku mau ke Sekolah ama yessi" jawabnya.
"Mbak Ma pake motor mbak yessi aja. Aku juga pinjem cuma hari ini aja"
"Males pake motornya yessi, lebih enak pake shogun.. Kamu pake eprek aja (sebutan kami buat motor honda merah tahun 60an warisan om, yang susah bgt distarter en gampang mogok)"

"Dasar egois!!" Lalu aku pergi ninggalin dia..
Gondokk banget aku waktu itu. Aku cuma bisa nahan tangis, kesel, dan gemes. Gimana tidak, kakakku lebih milih temennya dibanding adiknya sendiri.

Akhirnya, malam hari saat aku sedang nonton tv dengan kedua orang tuaku, aku bilang sambil marah ke orang tuaku "pak, buk, aku ga pernah minta apa2 selama ini. Sekarang aku minta, kalo ga dibeliin motor, aku minta komputer!" lalu aku pergi meninggalkan mereka..
Lho, apa hubungan motor ama komputer?
Aku STMnya jurusan elektronika/informatika. Aku butuh komputer untuk mengerjakan tugas atau sekedar belajar. Selama ini aku ngrental, yang bakal antri panjang saat musim tugas dan ujian.. Sedangkan motor, sebenernya aku tidak terlalu butuh. Toh aku juga ga bakal bawa motor ke malang.. Aku hanya emosi karena selalu dinomorduakan oleh kakakku..

Hingga beberapa hari kemudian kakakku bilang kepadaku " Dek, bapak lagi sibuk nyari komputer tuh. Kamu pengennya yang gimana?"
Deg!! Aku kaget mendengarnya..
Aku ga nyangka kalo permintaanku yang terucap saat aku emosi ternyata didengerin sama kedua orangku. Aku merasa bersalah bangett.. Aku merasa berdosa karena aku sembarangan ngomong..

Lalu aku bilang ke Bapakku..
"Pak, aku ga jadi minta komputer. Aku kemaren minta karena aku lagi marah aja. Udah ga usah dibeliin"
"Lho emang kenapa?" Bapakku heran
"Komputer khan mahal (waktu itu harga pentium aja udah seharga motor), kasian Bapak.."
Bapakku cuma bilang "udah ga usah dipikir, itu urusan Bapak ama Ibu"

Kemudian aku mengadu ke kakakku "mbak ma, gimana nih.."
"Udah gpp, Bapak ama Ibu emang katanya pengen beliin kamu komputer koq dari dulu" jawabnya membesarkan hatiku.

Waktu komputernya datang, aku senang meski ada perasaan bersalah. Memang waktu itu Bapakku beliinnya yang intel pentium celeron (versi murahnya pentium), tapi itu lebih dari cukup buat aku. Mana dibeliinnya lengkap dengan printer dan speaker :)
Alhamdulillah sih kesalahan itu bisa aku tebus dengan menjadi 10 besar siswa peraih NEM (sekarang nilai UAN) tertinggi di sekolah. Bahkan aku sempat mendengar kalo 9 dari 10 NEM tertinggi se-STM di Jawa Timur diraih oleh STM-ku..

Sejak kejadian itu, aku lebih berhati-hati saat harus berbicara dan meminta sesuatu ke orang tuaku. Aku berusaha untuk tidak merepotkan mereka.
Meski kadang kita meminta sesuatu sambil bercanda, bisa jadi kedua orang kita menganggapnya serius. Yaahh mereka hanya ingin membuat anaknya bahagia meski mereka harus banting tulang untuk itu..

Kita harus berbakti kepada orang tua karena balasannya langsung nyata di dunia. Begitu juga kalo kita durhaka kepada orang tua, hukumannya juga akan langsung kita dapat di dunia dan akhirat kelak..

Semoga kita selalu bisa menjadi anak kebanggaan orang tua. Amien..

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba tulisan dari mbak Ketty Husnia dalam tema “Bingkisan dari Kami

11 komentar:

ketty husnia said...

terimakasih atas partisipasinya mbak Nia..semoga menginspirasi semua pembaca..amin :)

z47d said...

Mbak Nia,, saya terharu bacanya.. jadi inget adik saya di desa.. semoga kelak selain membahagiakan ibu, saya ingin tetap menyayangi adik saya,, satu2nya adik laki-laki saya.. makasih buat postingannya mbak..

puteriamirillis said...

aku juga jadi inget adikku. dia pernah nulis gini di blognya, aku punya kakak yang aktif yg begini yg begitu, dan dia merasa masih kalah dibanding kakaknya. kakak suka ga nyadar ya, *komen ke diri sendiri. Jadi terharu bacanya nia, inget adikku.

Nia Angga said...

mbak ketty: amien
z47d, mbak put: makasih ya buat apresiasinya, aku juga ikut terharu lhoh!!
kakakku terharu juga gak ya kalo baca ini, apa malah marah? hehehe

catatannyasulung said...

Bagus ceritanya, Mbak. Tidak ada yang melebihi kasih sayang orang tua :)

Nia Angga said...

catatannya sulung: makasih yaaa.. bener banget, orang tua emang tiada duanya

Miss 'U said...

pengen ikutan giveaway ini.. pengen dapet buku kucing item ituh... tapi telat liat giveaway nya.. :(

moga menang mbak... :D :D

Nchie said...

Hiks..Ni..terharu banget bacanya..
Namanya orang tua,pasti adil membagi kasih sayang pada anak2nya,,.
Yang satu motor,yang satu lagi komputer..

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dari kejadian diatas..

Sukses ya Ngontesnya..
Aku ndukung menang ya..

Arif Zunaidi Riu_aj said...

Mau ikutan, follow-follow dulu, ah!

Mama Ani said...

Cinta orangtua pada anak-anaknya begitu besar, terkadang anak-anak selalu tidak mengerti kondisi orangtuanya...yah semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi teman2 semua

Nia Angga said...

Miss U, mama olive: amien, makasi ya say. tenyata kakakku ga sadar kalo dia dulu "semena-mena" hahhaha
arif : thx u broo atas kunjungannya. hidup banci kontess
mama ani: iya nih jadi nyesel :( semoga nanti anakku jadi anak yang berbakti. amien